Archive for Desember, 2009


Seni & Tauhid

Kata “Tuhan” adalah istilah yang menyimbolkan Wujud Mutlak, Sempurna, Hidup, dan Berdiri Sendiri, hanya kepada Allah Rabbul ‘Alamin semua wujud nisbi bergantung. Allah adalah Rabb, Maha Manajer Kehidupan, Yang Menyediakan semua rezeki sebagai fasilitas bagi seluruh manusia, dan yang Maha Mampu Membentuk (al-Mushawwir) lewat sunnatullah-Nya.

Allah adalah Tuhan/ Ilah yang—mau tak mau—seluruh makhluk harus menyembahnya, memujinya. Dia adalah Tuhan yang memberi sanksi, pidana, dosa dan pahala, tempat berlindung serta harapan ampunan dan pertolongan.

Allah adalah subjek satu-satunya yang tak pernah dapat diobjekkan. Bagaimana akal yang super jenius dapat memberikan gambaran bentuk zat-Nya, sementara Dia yang menciptakan akal. Maka dari itu, Allah tak dapat dilihat, dikenal, dicari, dibayangkan, ataupun dinyatakan. Tak kan ada pola yang nisbi bagi-Nya di alam ini.

Allah selalu luput dari verba pasif makhluk-Nya.

Adapun seni, merupakan manifestasi keindahan yang lahir melalui kreativitas sadar manusia. Produk keindahan yang tak disadari tidak dinamakan berseni.

Adapun hakikat keindahan adalah manifestasi sifat Jamaliyah Allah yang imanen dalam setiap wujud ciptaan-Nya. Segala sesuatu tampil dalam keindahan yang unik. Seperti inilah Allah Yang Maha Indah dalam mencipta dan mencinta keindahan.

Boleh jadi keindahan yang dimaksud disini tidak terbatas. Akan halnya perdamaian, suka cita, alam nan elok, lukisan/rupa yang begitu mengagumkan, dan segala yang mencitrakan energi positif.

Hakikat keindahan Allah adalah manifestasi sifat Jamaliyah Allah tak terbatas, dan memiliki energi positif bagi manusia.

Meskipun seni bersifat subjektif, seni memiliki nilai universal sehingga dapat diamati dan direspon oleh segenap manusia yang berbeda etnis dan background kehidupannya. Karena corak seni dan mekanismenya berada di alam kehidupan yang melibatkan semua bangsa. Belum tentu menurut orang indahnya suatu objek adalah indah bagi dirinya sendiri.

Seni juga memiliki daya untuk menggerakkan semangat manusia, membakar amarah, membuai hati ke alam nyata yang tak berwujud dan mampu melenakan. Oleh karenanya, sebagian orang mengharamkan seni, sebab seni mampu “menyihir” siapa saja tanpa pertimbangan baik dan buruknya. Untuk itulah mengapa kita memilah milih mana saja seni yang memberikan maslahat, dan yang mudharat untuk ditinggalkan.

Inilah yang dimaksud bahwa seni itu bebas nilai, tergantung bagaimana kita mengemas dan meletakkannya pada koridor tertentu.

Karena seni itu bebas nilai, maka Allah Rabbul ‘Alamin memberikan rambu-rambu kehidupan bagi manusia walaupun tidak ada nahs al-Quran dan Hadits. Cukup dengan hujjah, bahwa seni yang membawa maslahat bagi budaya dan eksistensi manusia tanpa nilai jorok dan negatif lah yang diperbolehkan.

Disamping membawa maslahat, patut kita sadari peranan seni tidak pernah lepas dari agama. Seni selalu dikendarai oleh agama dan filsafat untuk mengarahkan gaya hidup manusia agar berbudi dan luhur. Salah satu contohnya adalah penyebaran agama Islam melalui tradisi wayang oleh Sunan Kalijaga terhadap orang Jawa beberapa abad lalu. Beliau menyusupkan nilai-nilai ketuhanan, keteladanan dan akhlak melalui seni ini, agar masyarakat Hindu pada waktu itu memiliki kesadaran untuk konversi ke agama Islam.

Contoh lainnya adalah kisah perwayangan Mahabrata, Ramayana, yang diakui oleh umat Hindu mengandung ajaran agamanya. Teater Yunani, Opera, patung-patung di Gereja dan Vihara, nyanyian suci, tarian sufi, tarian bangsa Inca dan Maya, Matsnawi Rumi, Qasidah dan Qiraat al-Quran adalah contoh-contoh lainnya.

Seni sebagai mediasi dalam menyampaikan ajaran agama.

Sekarang, saya tanya Anda. Apakah Allah itu Maha Seni? Tentu Ia Maha Seni. Allah telah memberikan sinyalemen ini dalam al-Quran dengan nama-Nya yang agung, al-Mushawwir al-Kholiq. Jadi, seninya Allah itu adalah “Seni Abadi”—sebagaimana yang telah dipaparkan diatas—yang telah berhasil menjadi ujung tombak ajaran tauhid.

Jika kita museumkan ideologi agung ini, kita harus siap dengan penggantinya yang memadai buat selera zaman. Namun, satu hal yang mesti kita camkan; tiada keabadian dalam hasil kreativitas seni tanpa konsep akurat yang melatarbelakanginya.

Kretivitas positif yang dihasilkan para seniman seharusnya membawa misi maslahat, dan kemaslahatan yang terkandung itu merupakan amal saleh yang tak diragukan lagi nilainya. Tapi, amal saleh—kreativitas, atau yang biasa disebut dengan perbuatan baik—dalam pandangan akal manusia belum tentu dapat sampai ke hadirat Ilahi tanpa ruh, dan ruh seni itu adalah ikhlas.

Meskipun ikhlas telah memberikan sayap kepada amal saleh untuk terbang kepada hadratullah, ia belum mendapatkan tanggapan yang berupa balasan (jaza’) dari Rabbul ‘Alamin kalau tanpa kiblat. Dan kiblat amal saleh adalah mardhotillah.

Dengan ideologi berseni ini, maka sampailah kita di kalbu agama yang disebut dengan Samudera Tauhid. Sungguh, sangat nikmat dan elok melihat keagungan dan keindahan ciptaan Allah. Dan dengan inilah maka Allah dapat dibuktikan bahwa Dia ada dengan ketiadaannya (wujuduhu ka’adamihi).

Wallahu a’lam bisshowwab.

Ini merupakan pemantapan, sehingga pengetahuan tentang khat Naski dapat dikuasai dari segala aspeknya secara komprehensif.

Contohnya tatacara mengoreskan huruf sambung, yang mana siswa dituntun menguasai berbagai variasi sambungan huruf. Agar hasil tulisan lebih mantap, setiap goresan selalu dibarengi dengan ukuran-ukuran yang dirumuskan secara sistematis dan detail oleh Ibnu Muqlah, bapak kaligrafer ternama yang namanya telah diabadikan dalam sejarah kebudayaan dan seni Islam.

Rumus-rumus Ibnu Muqlah yang disebut dengan al-Khat al-Mansub (kaligrafi berstandar) terdiri dari sistem penggunaan standar huruf alif dengan 5 titik belah ketupat pada suatu lingkaran. Sederhananya, rumus itu dapat Anda lihat di bawah ini.

Setelah khat Naskhi, Riq’ah juga menjadi pilihan (jilid 4) yang banyak digunakan untuk menulis cepat seperti pelaaran dikte (imla’) atau ringkasan (khulasah). Cukuplah dua jenis khat ini dikuasai sepenuhnya oleh para siswa Madrasah Tsanawiyah.

Menguasai khat dengan mantap mungkin membutuhkan waktu yang tidak sebentar, walau ini tidak mutlak. Namun, kita dituntut bergerak cepat, sebab eksistensi kaligrafi di berbagai madrasah semakin menjamur seiring dengan kebutuhan masyarakat muslim atas skill yang satu ini. Disamping siswa dituntut bisa menulis khat dengan benar, namun pencapaian skill dalam tingkat “mahir” tetap menjadi rujuan yang utama.

Disamping itu, kaligrafi juga mejadi primadona masyarakat muslim sebagai unsur estetika hiasan interior mereka, khususnya masjid, majelis taklim, dan sebagainya. Bahkan bukan ini saja, pertumbuhan kaligrafi dari basis yang paling rendah seperti TQA hingga Aliyah memicu kebijakan lokal sekolah untuk mengadakan kompetisi dalam bidang Khat al-Quran, bahkan tak jarang mengirimkan siswanya sebagai duta untuk Musabaqah Khat al-Quran (MKQ) dari tingkat kecamatan hingga Nasional.

Dengan mempelajari Khat Naskhi dari buku jilid 3 ini sebagai ilmu dasar dalam mempelajari khat al-Quran, siswa diharapkan mahir dan tekun belajar dan latihan di rumah. Jadi, hendaknya pembimbing atau ustad tidak berperan sebagai pengantar materi, namun sebagai motivator.

Selain itu, setiap penyelenggara pendidikan dan latihan (diklat) kaligrafi hendaknya mendirikan sanggar-sanggar kaligrafi yang dimanajemeni secara lokal, agar pembinaan kaligrafi terarah secara mantap, dan siswa pun menjadi bergairah untuk latihan.

Materi tuntunan dari buku ini cocok bagi siswa Tsanawiyah dan sederajat. Disamping tematis dan praktis, buku ini sangat mudah difahami. ;)

Menurut Ibnu Muqlah, dikutip dari buku ‘Seni Kaligrafi Islam’ karangan Drs. H.D. Sirojuddin AR M.Ag, bahwa bentuk kaligrafi al-Quran barulah dianggap benar jika memenuhi lima kriteria sebagai berikut:

1. Tawfiyah (tepat), yaitu huruf harus mendapatkan usapan goresan sesuai dengan bagiannya secara utuh, baik lengkungan, kejuran, dan bengkokan.

2. Itmam (tuntas), yaitu setiap huruf harus diberikan ukuran yang utuh, baik panjang, pendek, tebal dan tipis.

3. Ikmal (sempurna), yaitu setiap usapan goresan harus sesuai dengan kecantikan bentuk yang wajar, baik gaya tegak, terlentang, memutar dan melengkung.

4. Isyba’ (padat), yaitu setiap usapan goresan harus mendapat sentuhan pas dari mata pena (nib pen) sehingga terbentuk keserasian. Dengan demikian tidak akan terjadi ketimpangan, satu bagian tampak terlalu tipis atau kelewat tebal dari bagian lainnya, kecuali pada wilayah-wilayah sentuhan yang menghendaki demikian.

5. Irsal (lancar),yaitu menggoreskan kalam secara cepat dan tepat, tidak tersandung atau tertahan sehingga menyusahkan, atau mogok di pertengahan goresan sehingga menimbulkan getaran tangan yang pada akhirnya merusak tulisan yang sedang digoreskan.

Lebih lanjut, Ibnu Muqlah merumuskan semua potongan huruf dalam standar huruf alif yang digoreskan dalam bentuk vertikal, dengan ukuran sejumlah khusus titik belah ketupat yang ditemuka mulai dari atas hingga kebawah (‘amadiyyan, vertex to vertex), dan jumlah titik tersebut pusparagam sesuai dengan bentuknya, dari lima sampai tujuh titik. Standar lingkaran memiliki radius atau jarak yang sama dengan alif. Kedua standar alif dan lingkaran terebut digunakan juga sebagai dasar bentuk pengukuran atau geometri. Inilah yang disebut dengan rumusan atau kaligrafi berstandar (al-khat al-mansub) sesuai dengan kaidah yang baku dan menjadi standarisasi pedoman penulisan kaligrafi murni.

Penguasaan atas rumusan ini butuh waktu adaptasi yang cukup lama. Oleh karenanya, ketekunan untuk selalu coba dan mencoba walau kesalahan kerap kali ditemukan merupakan dinamika penguasaan khat. Usaha ini harus terus dilakukan sehingga bisa teradaptasi langsung, baik bayangan bentuk rumus, bentuk huruf, titik, skala garis, dan sebagainya. Coba perhatikan gambar berikut ini.

Adapun tata letak yang baik (husn al-wad’i), menurut Ibnu Muqlah menghendaki perbaikan empat hal, antara lain:

1. Tarsîf (rapat dan teratur), yaitu tepatnya sambungan satu huruf dengan yang lainnya. Coba perhatikan contoh berikut ini

Contoh gaya khat sulus diatas disusun dengan kerapatan yang teratur, seimbang jarak antar huruf, sesuai dengan ukuran kaidah baku yang dijadikan standarisasi penulisan resmi.

Selanjutnya, coba perhatikan contoh gaya khat kufi diatas. Jarak, bentuk, kerapatan, kelenturan, dan potongan hurufnya disusun sama persis, simetri, dan proporsional.

2. Ta’lîf (tersusun), yaitu menghimpun setiap huruf terpisah (tunggal) dengan lainnya dalam bentuk wajar dan indah. Coba perhatikan contoh diatas, bentuk-bentuk tiap huruf gaya sulus diatas tidak ditulis dengan bentuk yang berbeda, melainkan sama semuanya, baik bentuk, tebal tipis, tinggi dan lebarnya. Keseragaman 3 huruf ha/ jim yang terletak di tengah kanan, bawah, dan kiri menimbulkan kesan keindahan atas karakter bentuk huruf tersebut. Begitu juga 4 huruf lam alif.

3. Tastîr (selaras, beres), yaitu menghubungkan suatu kata dengan yang lainnya sehingga membentuk garisan yang selaras letaknya bagaikan mistar (penggaris). Coba perhatikan contoh sulus diatas, bagaimana 3 huruf lam alif disusun sejajar. Atau lihat berikut ini.

Pada contoh gaya diatas susunan antar huruf bagian bawahnya selaras diatas garis mistar, dan rapi.

4. Tansîl (bagaikan pedang atau lembing kerena indahnya), yaitu meletakkan sapuan-sapuan garis memanjang yang indah pada tiap huruf sambung. Coba lihat contoh berikut ini.

Pada contoh khat diwany diatas, sapuan atau goresan huruf sin pada kalimat syarîfah di baris awal, kepala kaf tunggal, akhir dan tengah di baris tengah, begitu juga di baris bawah tampak memanjang seperti sabetan pedang, indah, tetapi semua bentuknya wajar.

Semua keindahan itu dapat disusun dengan proporsional, bentuk yang wajar, dan indah jika memenuhi kriteria penulisan yang diakui. Berikut ini adalah contoh kaidah khat naskah yang banyak sekali digunakan dalam penulisan manuskrip atau teks-teks resmi, yang diakui oleh khattat Indonesia pada umumnya sebagai langkah awal penguasaan kaidah huruf. Jika rumusan/ kaidah gaya huruf ini telah dikuasai, gaya huruf khat yang lain mudah dikuasai juga

Pada bagian atas dan bawah, terdapat kesamaan bentuk kepala ‘ain mulai dari atas potongan atas, tengah, dan bawah. Kesamaam bentuk itu disebabkan kemampuan ulung khattat Muhammad Syauqy yang telah menjadi master kaligrafi Turki. Begitu juga bentuk huruf-huruf yang lainnya.

Adapun pada kolom tengah, merupakan kaidah naskhi yang terdiri dari benuk-benuk varian kaf. Sedangkan kolom tengah bagian bawah, merupakan bentuk varian huruf mim. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kriteria penulisan menjadi prinsip utama yang harus dikuasai khattat, kemudian mengaplikasikannya pada tiap gaya khat tersendiri.

Jurnalistik Dasar

Siapa Bilang Bercerita Itu Sulit?

Bila ingin mencoba mengasah instink kewartawanan, cobalah Anda andaikan diri selayaknya seorang wartawan. Lalu, ternyata andaian itu tidak membantu apa-apa bagi kepekaan anda, ini wajar. Sebab proses kreatif kewartawanan ternyata tidak sekedar berandai-andai, butuh totalitas pemahaman kognitif dan psikomotorik.

Untuk menuju totalitas pemahaman, paling tidak, terlebih dahulu kita harus mengerti apa yang mesti kita kerjakan dengan status profesi tersebut. sebenarnya, basis dari semua proses kreatif kewartawanan tidak lain adalah bercerita. Tugas wartawanan adalah membeberkan fakta kepada siapapun yang berhak atasnya. Sayang, untuk bercerita, nyatanya tidak semudah menyebarluaskan desas-desus yang biasa kita lakukan dalam pola komunikasi konvensional : lisan. Jurnalisme ternyata punya aturan sendiri tentang “bercerita”.

Aturan itu penting sifatnya, sebab bercerita dalam jurnalistik selalu digiring dalam kerangka menjernihkan desas-desus yang secara konsisten dibiasakan melalui budaya komunikasi lisan kita. ingat, membeberkan fakta bukan berarti menyebarluaskan desas-desus yang berkembang di masyarakat. Sebaliknya, membeber fakta berarti menjernihkan masalah yang sudah terlanjur keruh menjadi desas-desus. Dalam kerangka inilah, sejak awal, seorang wartawan dituntut menjalankan dua prinsip sekaligus : recek dan cover multi sides.

Prinsip pertama mengajari kita tentang kedisiplinan menembus sumber utama dan pertama di setiap masalah yang kita ceritakan. Prinsip kedua, secara ideologikal, mengajari kita untuk selalu berdiri sebagai penengah dari setiap tarik-ulur kepentingan individu atau kelompok masyarakat yang ada disetiap masalah yang hendak kita ceritakan. Artinya, dalam setiap usaha bercerita, wartawan harus selalu mengcover suara berbagai kepentingan individu maupun kelompok sosial yang secara langsung terlibat pada masalah yang hendak diceritakan.

Coba ingat-ingat betapa tidak sahihnya pola komunikasi lisan kita, yang senantiasa menjaga desas-desus sebagai daya tariknya. Cerita apapun yang keluar masuk telinga kita, hampir diujung lidah, dengan mudah bisa kita ceritakan tanpa dibebani prinsip recek maupun cover both sides.

Jurnalisme, tanpa ada pretensi untuk mendewakannya, tidak bisa kompromi dengan cara diatas. Ini karena cerita yang direkonstruksi oleh jurnalisme dalam sebuah gaya tutur,akan selalu berhadap-hadapan dengan opini publik. Sebab demikian cara bertutur harus meminimalisir ruang bagi berkembangnya kesimpangsiuran informasi yang bisa menjurus kepada fitnah. Ini namnya resiko. Bisa jadi tugas kewartawanan memang berusaha menjernihkan masalah yang sudah keruh dan bercampur fitnah, tetapi bila wartawan salah merekonstruksi masalah, selanjutnya membeberkan masalah tersebut kepada publik, maka yang terjadi justru sebaliknya, wartawan dalam kasus ini justru dalam memperkeruh masalah.

Tidak gampang meghindar dari resiko ini. Namun, jurnalisme punya patokannya: akurasi. Informasi apapun harus berpijak pada data. Data harus detail menyebut semua unsur masalah yang diberikan. Variable masalahnya harus jelas dituturkan. Keterlibatan setiap individu dan kelompok sosial mesti dicover sebagai keseimbangan informasi. Dan, wartawan tidak mendramatisir masalah dengan bombastisme, sebab fakta itu seringkali lebih dramatis dari imajinasi seorang wartawan sekalipun.

Masih bingung? Ini detailnya :

v      Pahami obyek dan unsur informasi. Seorang wartawan harus menguasai obyeknya. Dalam jurnalisme, berdasarkan kompleksitas unsurnya, obyek informasi dibedakan menjadi tiga hirarki: peristiwa, kasus, fenomena. Ketiganya adalah fakta. Pembedaan diantara ketiganya hanya terletak pada tingkat kompleksitas. Bisa jadi ketiganya adalah rangkaian; peristiwa merupakan sepenggal momen dalam sebuah kasus; pun demikian kasus bisa jadi merupakan sepenggal episode dari kukuhnya fenomena ditengah-tengah masyarakat.

Perbedaan diantara ketiganya mutlak harus dimengerti oleh seorang wartawan. Sebab bidikan obyek yang berbeda, akan menghasilkan kedalaman yang berbeda, dan tentu saja mempengaruhi bentuk pemberitaan. Peristiwa biasanya menghasilkan bentuk straight news (berita langsung), kasus selalu dibidik dalam bentuk pemberitaan depth news (berita mendalam) atau investigative news (berita dari hasil investigasi), sementara fenomena sedang marak bedah dalam kaidah jurnalisme presisi (jurnalisme ketepatan: sebuah teknik jurnalistik yang memanfaatkan metode penelitian untuk membedah sebuah fenomena, metode polling contohnya).

v      Apapun spesifikasi obyeknya, setiap pembidikan obyek informasi, harus detail menyebutkan berbagai unsur yang membentuk obyek. Dalam pandangan umum, unsur tersebut dirumuskan menjadi 5W +1H.

1.        Apa dulu, siapa kemudian. Wartawan harus mengetahui secara tuntas kronologi dan muatan obyek informasi. Tanpa kompromi, wartawan harus mengetahui detail isi sebuah obyek berita. Detail isi itu kemudian dituturkan secara lenngkap kepada publik.

2.        Siapa menjadi justifikasi. Unsur ini mengikutkan individu atau kelompok sosial yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam tarik-ulur kepentingan dimedan obyek. Unsur siapa inilah yang kemudian disebut dengan sumber berita, fungsinya memberi pembenaran terhadap fakta yang dituturkan oleh wartawan.

3.        Dimensi ruang waktu sebuah obyek informasi mesti disebutkan. Kapan dan dimana fakta itu terjadi, harus diikutsertakan dalam mendeskripsikan fakta.

4.        Bila menginginkan kedalaman informasi, seorang wartawan mesti menggali aspek Why atau setting fakta dan How atau kelanjutannya sebagai alat menggali dimensi kedalaman fakta.

v      Membidik dengan angel. Angel disebut sebagai sudut bidik sebuah pemberitaan. Mengapa butuh angel? Karena keterbatasan. Fakta tidak mungkin direpresentasi secara utuh dalam sebuah pemberitaan. Menghindari pemberitaan yang bias akibat keterbatasan, selayaknya wartawan selalu menentukan angel pemberitaan, sebagai upaya memfokuskan masalah pada sudut bidik tertentu dari sebuah obyek berita. Kalau masih bingung, begini aja deh!

Rambut sebagai obyek agitasinya. Tetapi, lain iklan shampo lain pula angelnya. Clear lebih tertarik membidik kesehatan kulit rambut dan mewanti-wanti datangnya ketombe. Sunslik ternyata lebih tertarik pada sudut bidik kemilaunya, sementara rejoice memilih kekuatan rambut, agar tidak mudah patah. Semua iklan shampo berbicara tentang rambut. Semuanya menyuguhkan sudut bidiknya masing-masing. Demikianlah angel.berdasarkan

Jangan beropini. Sebab wartawan tidak boleh mencantumkan opini pribadinya dalam sebuah pemberitaan. Biarlah fakta berbicara atas nama dirinya sendiri. Jangan dicampur-adukkan dengan opini pribadi wartawan.

Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra) (Sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain.

Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers.

Bahasa jurnalistik itu sendiri juga memiliki karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenis tulisan apa yang akan terberitakan. Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menuliskan reportase investigasi tentu lebih cermat bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam penulisan features. Bahkan bahasa jurnalistik pun sekarang sudah memiliki kaidah-kaidah khas seperti dalam penulisan jurnalisme perdamaian (McGoldrick dan Lynch, 2000). Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis berita utama—ada yang menyebut laporan utama, forum utama– akan berbeda dengan bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis tajuk dan features. Dalam menulis banyak faktor yang dapat mempengaruhi karakteristik bahasa jurnalistik karena penentuan masalah, angle tulisan, pembagian tulisan, dan sumber (bahan tulisan). Namun demikian sesungguhnya bahasa jurnalistik tidak meninggalkan kaidah yang dimiliki oleh ragam bahasa Indonesia baku dalam hal pemakaian kosakata, struktur sintaksis dan wacana (Reah, 2000). Karena berbagai keterbatasan yang dimiliki surat kabar (ruang, waktu) maka bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Kosakata yang digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan bahasa dalam masyarakat.

Sifat-sifat tersebut merupakan hal yang harus dipenuhi oleh ragam bahasa jurnalistik mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Dengan kata lain bahasa jurnalistik dapat dipahami dalam ukuran intelektual minimal. Hal ini dikarenakan tidak setiap orang memiliki cukup waktu untuk membaca surat kabar. Oleh karena itu bahasa jurnalistik sangat mengutamakan kemampuan untuk menyampaikan semua informasi yang dibawa kepada pembaca secepatnya dengan mengutamakan daya komunikasinya.

Dengan perkembangan jumlah pers yang begitu pesat pasca pemerintahan Soeharto—lebih kurang ada 800 pelaku pers baru—bahasa pers juga menyesuaikan pasar. Artinya, pers sudah menjual wacana tertentu, pada golongan tertentu, dengan isu-isu yang khas.

Pemakaian Bahasa Jurnalistik

Terdapat berbagai penelitian yang terkait dengan bahasa, pikiran, ideologi, dan media massa cetak di Indonesia. Anderson (1966, 1984) meneliti pengaruh bahasa dan budaya Belanda serta Jawa dalam perkembangan bahasa politik Indonesia modern, ketegangan bahasa Indonesia yang populis dan bahasa Indonesia yang feodalis. Naina (1982) tentang perilaku pers Indonesia terhadap kebijakan pemerintah seperti yang termanifestasikan dalam Tajuk Rencana. Hooker (1990) meneliti model wacana zaman orde lama dan orde baru. Penelitian tabor Eryanto (2001) tentang analisis teks di media massa. Dari puluhan penelitian yang breakout dengan pers, tenyata belum terdapat penelitian yang secara khusus memformulasikan karakteristik (ideal) bahasa jurnalistik berdasarkan induksi karakteristik bahasa pers yang termanifestasikan dalam kata, kalimat, dan wacana.

Di awal tahun 1980-an terbersit berita bahwa bahasa Indonesia di media massa menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia baku. Roni Wahyono (1995) menemukan kemubaziran bahasa wartawan di Semarang dan Yogyakarta pada aspek gramatikal (tata bahasa), leksikal (pemilihan kosakata) dan ortografis (ejaan). Berdasarkan aspek kebahasaan, kesalahan tertinggi yang dilakukan wartawan terdapat pada aspek gramatikal dan kesalahan terendah pada aspek ortografi. Berdasarkan jenis berita, berita olahraga memiliki frekuensi kesalahan tertinggi dan frekuensi kesalahan terendah pada berita kriminal. Penyebab wartawan melakukan kesalahan bahasa dari faktor penulis karena minimnya penguasaan kosakata, pengetahuan kebahasaan yang terbatas, dan kurang bertanggung jawab terhadap pemakaian bahasa, karena kebiasaan lupa dan pendidikan yang belum baik. Sedangkan faktor di luar penulis, yang menyebabkan wartawan melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Indonesia karena keterbatasan waktu menulis, lama kerja, banyaknya naskah yang dikoreksi, dan tidak tersedianya redaktur bahasa dalam surat kabar.

Walaupun di dunia penerbitan telah ada buku-buku jurnalistik praktis karya Rosihan Anwar (1991), Asegaf (1982), Jacob Oetama (1987), Ashadi Siregar, dll, namun masih perlu dimunculkan petunjuk akademik maupun teknis pemakaian bahasa jurnalistik. Dengan mengetahui karakteristik bahasa pers Indonesia—termasuk sejauh mana mengetahui penyimpangan yang terjadi, kesalahan dan kelemahannya,– maka akan dapat diformat pemakaian bahasa jurnalistik yang komunikatif.

Terdapat beberapa penyimpangan bahasa jurnalistik dibandingkan dengan kaidah bahasa Indonesia baku:

  1. Peyimpangan morfologis. Peyimpangan ini sering terjadi dijumpai pada judul berita surat kabar yang memakai kalimat aktif, yaitu pemakaian kata kerja tidak baku dengan penghilangan afiks. Afiks pada kata kerja yang berupa prefiks atau awalan dihilangkan. Kita sering menemukan judul berita misalnya, Polisi Tembak Mati Lima Perampok Nasabah Bank. Israil Tembak Pesawat Mata-mata. Amerika Bom Lagi Kota Bagdad.
  2. Kesalahan sintaksis. Kesalahan berupa pemakaian tatabahasa atau struktur kalimat yang kurang benar sehingga sering mengacaukan pengertian. Hal ini disebabkan logika yang kurang bagus. Contoh: Kerajinan Kasongan Banyak Diekspor Hasilnya Ke Amerika Serikat. Seharusnya Judul tersebut diubah Hasil Kerajinan Desa Kasongan Banyak Diekspor Ke Amerika. Kasus serupa sering dijumpai baik di koran lokal maupun koran nasional.
  3. Kesalahan kosakata. Kesalahan ini sering dilakukan dengan alasan kesopanan (eufemisme) atau meminimalkan dampak buruk pemberitaan. Contoh: Penculikan Mahasiswa Oleh Oknum Kopasus itu Merupakan Pil Pahit bagi ABRI. Seharusnya kata Pil Pahit diganti kejahatan. Dalam konflik Dayak- Madura, jelas bahwa yang bertikai adalah Dayak dan Madura, tetapi wartawan tidak menunjuk kedua etnis secara eksplisit. Bahkan di era rezim Soeharto banyak sekali kosakata yang diekspose merupakan kosakata yang menekan seperti GPK, subversif, aktor intelektual, ekstrim kiri, ekstrim kanan, golongan frustrasi, golongan anti pembangunan, dll. Bahkan di era kebebasan pers seperti sekarang ini, kecenderungan pemakaian kosakata yang bias makna semakin banyak.
  4. Kesalahan ejaan. Kesalahan ini hampir setiap kali dijumpai dalam surat kabar. Koran Tempo yang terbit 2 April 2001yang lalu tidak luput dari berbagai kesalahan ejaan. Kesalahan ejaan juga terjadi dalam penulisan kata, seperti: Jumat ditulis Jum’at, khawatir ditulis hawatir, jadwal ditulis jadual, sinkron ditulis singkron, dll.
  5. Kesalahan pemenggalan. Terkesan setiap ganti garis pada setiap kolom kelihatan asal penggal saja. Kesalahan ini disebabkan pemenggalan bahasa Indonesia masih menggunakan program komputer berbahasa Inggris. Hal ini sudah bisa diantisipasi dengan program pemenggalan bahasa Indonesia.

Untuk menghindari beberapa kesalahan seperti diuraikan di atas adalah melakukan kegiatan penyuntingan baik menyangkut pemakaian kalimat, pilihan kata, dan ejaan. Selain itu, pemakai bahasa jurnalistik yang baik tercermin dari kesanggupannya menulis paragraf yang baik. Syarat untuk menulis paragraf yang baik tentu memerlukan persyaratan menulis kalimat yang baik pula. Paragraf yang berhasil tidak hanya lengkap pengembangannya tetapi juga menunjukkan kesatuan dalam isinya. Paragraf menjadi rusak karena penyisipan-penyisipan yang tidak bertemali dan pemasukan kalimat topik kedua atau gagasan pokok lain ke dalamnya.

Oleh karena itu seorang penulis seyogyanya memperhatikan pertautan dengan (a) memperhatikan kata ganti; (b) gagasan yang sejajar dituangkan dalam kalimat sejajar; manakala sudut pandang terhadap isi kalimat tetap sama, maka penempatan fokus dapat dicapai dengan pengubahan urutan kata yang lazim dalam kalimat, pemakaian bentuk aktif atau pasif, atau mengulang fungsi khusus. Sedangkan variasi dapat diperoleh dengan (1) pemakaian kalimat yang berbeda menurut struktur gramatikalnya; (2) memakai kalimat yang panjangnya berbeda-beda, dan (3) pemakaian urutan unsur kalimat seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan dengan selang-seling. Jurnalistik “gaya Tempo” menggunakan kalimat-kalimat yang pendek dan pemakaian kata imajinatif. Gaya ini banyak dipakai oleh berbagai wartawan yang pernah bersentuhan dengan majalah Tempo.

Agar penulis mampu memilih kosakata yang tepat mereka dapat memperkaya kosakata dengan latihan penambahan kosakata dengan teknik sinonimi, dan antonimi. Dalam teknik sinonimi penulis dapat mensejajarkan kelas kata yang sama yang nuansa maknanya sama atau berbeda. Dalam teknik antonimi penulis bisa mendaftar kata-kata dan lawan katanya. Dengan cara ini penulis bisa memilih kosakata yang memiliki rasa dan bermakna bagi pembaca. Jika dianalogikan dengan makanan, semua makanan memiliki fungsi sama, tetapi setiap orang memiliki selera makan yang berbeda. Tugas jurnalis adalah melayani selera pembaca dengan jurnalistik yang enak dibaca dan perlu. (Slogan Tempo).

Goenawan Mohamad pada 1974 telah melakukan “revolusi putih” (Istilah Daniel Dhakidae) yaitu melakukan kegiatan pemangkasan sekaligus pemadatan makna dan substansi suatu berita. Berita-berita yang sebelumnya cenderung bombastis bernada heroik–karena pengaruh revolusi—dipangkas habis menjadi jurnalisme sastra yang enak dibaca. Jurnalisme semacam ini setidaknya menjadi acuan atau model koran atau majalah yang redakturnya pernah mempraktikkan model jurnalisme ini. Banyak orang fanatik membaca koran atau majalah karena gaya jurnalistiknya, spesialisasinya, dan spesifikasinya. Ada koran yang secara khusus menjual rubrik opini, ada pula koran yang mengkhususkan diri dalam peliputan berita. Ada pula koran yang secara khusus mengkhususkan pada bisnis dan iklan. Jika dicermati, sesungguhnya, tidak ada koran yang betul-betul berbeda, karena biasanya mereka berburu berita pada sumber yang sama. Jurnalis yang bagus, tentu akan menyiasati selera dan pasar pembacanya.

Dalam hubungannya dengan prinsip penyuntingan bahasa jurnalistik terdapat beberapa prinsip yang dilakukan (1) balancing, menyangkut lengkap-tidaknya batang tubuh dan data tulisan, (2) visi tulisan seorang penulis yang mereferensi pada penguasaan atas data-data aktual; (3) logika cerita yang mereferensi pada kecocokan; (4) akurasi data; (5) kelengkapan data, setidaknya prinsip 5wh, dan (6) panjang pendeknya tulisan karena keterbatasan halaman.

Prinsip Dasar Bahasa Jurnalistik

Bahasa jurnalistik merupakan bahasa komunikasi massa sebagai tampak dalam harian-harian surat kabar dan majalah. Dengan fungsi yang demikian itu bahasa jurnalistik itu harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal. Menurut JS Badudu (1988) bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar dan jelas. Sifat-sifat itu harus dimiliki oleh bahasa pers, bahasa jurnalistik, mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Oleh karena itu beberapa ciri yang harus dimiliki bahasa jurnalistik di antaranya:

  1. Singkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.
  2. Padat, artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu sudah mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Semua yang diperlukan pembaca sudah tertampung didalamnya. Menerapkan prinsip 5 wh, membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata.
  3. Sederhana, artinya bahasa pers sedapat-dapatnya memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, praktis, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis)
  4. Lugas, artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga .
  5. Menarik, artinya dengan menggunakan pilihan kata yang masih hidup, tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.
  6. Jelas, artinya informasi yang disampaikan jurnalis dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum (pembaca). Struktur kalimatnya tidak menimbulkan penyimpangan/pengertian makna yang berbeda, menghindari ungkapan bersayap atau bermakna ganda (ambigu). Oleh karena itu, seyogyanya bahasa jurnalistik menggunakan kata-kata yang bermakna denotatif. Namun seringkali kita masih menjumpai judul berita: Tim Ferrari Berhasil Mengatasi Rally Neraka Paris-Dakar. Jago Merah Melahap Mall Termewah di Kawasan Jakarta. Polisi Mengamankan Oknum Pemerkosa dari Penghakiman Massa.

Dalam menerapkan ke-6 prinsip tersebut tentunya diperlukan latihan berbahasa tulis yang terus-menerus, melakukan penyuntingan yang tidak pernah berhenti. Dengan berbagai upaya pelatihan dan penyuntingan, barangkali akan bisa diwujudkan keinginan jurnalis untuk menyajikan ragam bahasa jurnalistik yang memiliki rasa dan memuaskan dahaga selera pembacanya.

Dipandang dari fungsinya, bahasa jurnalistik merupakan perwujudan dua jenis bahasa yaitu seperti yang disebut Halliday (1972) sebagai fungsi ideasional dan fungsi tekstual atau fungsi referensial, yaitu wacana yang menyajikan fakta-fakta. Namun, persoalan muncul bagaimana cara mengkonstruksi bahasa jurnalistik itu agar dapat menggambarkan fakta yang sebenarnya. Persoalan ini oleh Leech (1993) disebut retorika tekstual yaitu kekhasan pemakai bahasa sebagai alat untuk mengkonstruksi teks. Dengan kata lain prinsip ini juga berlaku pada bahasa jurnalistik.

Terdapat empat prinsip retorika tekstual yang dikemukakan Leech, yaitu prinsip prosesibilitas, prinsip kejelasan, prinsip ekonomi, dan prinsip ekspresifitas.

  1. Prinsip prosesibilitas, menganjurkan agar teks disajikan sedemikian rupa sehingga mudah bagi pembaca untuk memahami pesan pada waktunya. Dalam proses memahami pesan penulis harus menentukan (a) bagaimana membagi pesan-pesan menjadi satuan; (b) bagaimana tingkat subordinasi dan seberapa pentingnya masing-masing satuan, dan (c) bagaimana mengurutkan satuan-satuan pesan itu. Ketiga macam itu harus saling berkaitan satu sama lain.

Penyusunan bahasa jurnalistik dalam surat kabar berbahasa Indonesia, yang menjadi fakta-fakta harus cepat dipahami oleh pembaca dalam kondisi apa pun agar tidak melanggar prinsip prosesibilitas ini. Bahasa jurnalistik Indonesia disusun dengan struktur sintaksis yang penting mendahului struktur sintaksis yang tidak penting

Perhatikan contoh berikut:

  1. Pangdam VIII/Trikora Mayjen TNI Amir Sembiring mengeluarkan perintah tembak di tempat, bila masyarakat yang membawa senjata tajam, melawan serta tidak menuruti permintaan untuk menyerahkannya. Jadi petugas akan meminta dengan baik. Namun jika bersikeras dan melawan, terpaksa akan ditembak di tempat sesuai dengan prosedur (Kompas, 24/1/99)
  1. Ketua Umum PB NU KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) mengadakan kunjungan kemanusiaan kepada Ketua Gerakan Perlawanan Timor (CNRT) Xanana Gusmao di LP Cipinang, Selasa (2/2) pukul 09.00 WIB. Gus Dur didampingi pengurus PBNU Rosi Munir dan staf Gus Dur, Sastro. Turut juga Aristides Kattopo dan Maria Pakpahan (Suara Pembaruan, 2/2/99)

Contoh (1) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat pertama menyatakan pesan penting dan kalimat kedua menerangkan pesan kalimat pertama. Contoh (2) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat pertama menyatakan pesan penting dan kalimat kedua serta kalimat ketiga menyatakan pesan yang menerangkan pesan kalimat pertama.

  1. Prinsip kejelasan, yaitu agar teks itu mudah dipahami. Prinsip ini menganjurkan agar bahasa teks menghindari ketaksaan (ambiguity). Teks yang tidak mengandung ketaksaan akan dengan mudah dan cepat dipahami.

Perhatikan Contoh:

  1. Ketika mengendarai mobil dari rumah menuju kantornya di kawasan Sudirman, seorang pegawai bank, Deysi Dasuki, sempat tertegun mendengar berita radio. Radio swasta itu mengumumkan bahwa kawasan Semanggi sudah penuh dengan mahasiswa dan suasananya sangat mencekam (Republika, 24/11/98)
  1. Wahyudi menjelaskan, negara rugi karena pembajak buku tidak membayar pajak penjualan (PPN) dan pajak penghasilan (PPH). Juga pengarang, karena mereka tidak menerima royalti atas karya ciptaannya. (Media Indonesia, 20/4/1997).

Contoh (3) dan (4) tidak mengandung ketaksaan. Setiap pembaca akan menangkap pesan yang sama atas teks di atas. Hal ini disebabkan teks tersebut dikonstruksi oleh kata-kata yang mengandung kata harfiah, bukan kata-kata metaforis.

  1. Prinsip ekonomi. Prinsip ekonomi menganjurkan agar teks itu singkat tanpa harus merusak dan mereduksi pesan. Teks yang singkat dengan mengandung pesan yang utuh akan menghemat waktu dan tenaga dalam memahaminya. Sebagaimana wacana dibatasi oleh ruang wacana jurnalistik dikonstruksi agar tidak melanggar prinsip ini. Untuk mengkonstruksi teks yang singkat, dalam wacana jurnalistik dikenal adanya cara-cara mereduksi konstituen sintaksis yaitu (i) singkatan; (ii) elipsis, dan (iii) pronominalisasi. Singkatan, baik abreviasi maupun akronim, sebagai cara mereduksi konstituen sintaktik banyak dijumpai dalam wacana jurnalistik
  1. Setelah dipecat oleh DPR AS karena memberikan sumpah palsu dan menghalang-halangi peradilan, Presiden Bill Clinton telah menjadi presiden kedua sejak berdirinya Amerika untuk diperintahkan diadili di dalam senat (Suara Pembaruan, 21/12/98)
  1. Ketua DPP PPP Drs. Zarkasih Noer menyatakan, segala bentuk dan usaha untuk menghindari disintegrasi bangsa dari mana pun atau siapa pun perlu disambut baik (Suara Pembaruan, 21/12/98

Pada contoh (5) terdapat abreviasi DPR AS. Pada contoh (6) terdapat abreviasi DPP PPP. Selain itu ada abreviasi lain seperti SARA, GPK, OTB, OT, AMD, SDM. AAK, GPK, dll. Terdapat pula berbagai bentuk akronim dengan variasi pembentukannya walaupun seringkali tidak berkaidah. Misalnya. Curanmor, Curas, Miras, dll.

Elipsis merupakan salah satu cara mereduksi konstituen sintaktik dengan melesapkan konstituen tertentu.

  1. AG XII Momentum gairahkan olahraga Indonesia (Suara Pembaruan, 21/12/98)
  1. Jauh sebelum Ratih diributkan, Letjen (Pur) Mashudi, mantan Gubernur Jawa Barat dan mantan Ketua Umum Kwartir Gerakan Pramuka telah menerapkan ide mobilisasi massa. Konsepnya memang berbeda dengan ratih (Republika, 223/12/98)

Pada contoh ((7) terdapat pelepasan afiks me(N)- pada verba gairahkan. Pelepasan afiks seperti contoh (7) di atas sering terdapat pada judul wacana jurnalistik. Pada contoh (8) terdapat pelesapan kata mobilisasi masa pada kalimat kedua.

Pronominalisasi merupakan cara mereduksi teks dengan menggantikan konstituen yang telah disebut dengan pronomina. Pronomina Pengganti biasanya lebih pendek daripada konstituen terganti.

  1. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia (DPP PDI) hasil kongres Medan Soerjadi dan Sekjen Buttu Hutapea pada hari Minggu (23/8) sekitar pukul 18.30 Wita tiba di bandara Mutiara, Palu Sulawesi Tengah, dengan diangkut pesawat khusus. Keduanya datang untuk mengikuti Kongres V PDI, dengan pengawalan ketat langsung menunggu Asrama Haji dan menginap di sana. (Kompas, 24/8/98)
  1. Hendro Subroto bukan militer. Sebagai seorang warga sipil, jejak pengalamannya dalam beragam mandala pertempuran merupakan rentetan panjang sarat pengalaman mendebarkan. Ia hadir ketika Kahar Muzakar tewas disergap pasukan Siliwangi di perbukitan Sulsel (Kompas, 24/8/98).

Pada contoh (9) tampak bahwa keduanya pada kalimat kedua merupakan pronominalisasi kalimat pertama. Pada contoh (10) kata ia mempronominalisasikan Hendro Subroto, sebagai warga sipil pada kalimat pertama dan kedua.

  1. Prinsip ekspresivitas. Prinsip ini dapat pula disebut prinsip ikonisitas. Prinsip ini menganjurkan agar teks dikonstruksi selaras dengan aspek-aspek pesan. Dalam wacana jurnalistik, pesan bersifat kausalitas dipaparkan menurut struktur pesannya, yaitu sebab dikemukakan terlebih dahulu baru dikemukakan akibatnya. Demikian pula bila ada peristiwa yang terjadi berturut-turut, maka peristiwa yang terjadi lebih dulu akan dipaparkan lebih dulu dan peristiwa yang terjadi kemudian dipaparkan kemudian.
  1. Dalam situasi bangsa yang sedang kritis dan berada di persimpangan jalan, karena adanya benturan ide maupun paham politik, diperlukan adanya dialog nasional. “Dialog diperlukan untuk mengubur masa lalu, dan untuk start ke masa depan”. Tutur Prof. Dr. Nurcholis Madjid kepada Kompas di kediamannya di Jakarta Rabu (23/12) (Kompas, 24/12/98).

Pada contoh (11) tampak bahwa kalimat pertama menyatakan sebab dan kalimat kedua mendatangkan akibat.

Pemakaian Kata, Kalimat dan Alinea

Bahasa jurnalistik juga mengikuti kaidah bahasa Indonesia baku. Namun pemakaian bahasa jurnalistik lebih menekankan pada daya kekomunikatifannya. Para pembelajar BIPA tingkat lanjut dapat mempotensikan penggunaan bahasa Indonesia ragam jurnalistik dengan beberapa usaha.

  1. Pemakaian kata-kata yang bernas. Kata merupakan modal dasar dalam menulis. Semakin banyak kosakata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula gagasan yang dikuasainya dan sanggup diungkapkannya.

Dalam penggunaan kata, penulis yang menggunakan ragam BI Jurnalistik diperhadapkan pada dua persoalan yaitu ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Ketepatan mempersoalkan apakah pilihan kata yang dipakai sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis dan pembaca. Sedangkan kesesuaian mempersoalkan pemakaian kata yang tidak merusak wacana.

  1. Penggunaan kalimat efektif. Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung sempurna. Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan itu tergambar lengkap dalam pikiran si pembaca, persis apa yang ditulis. Keefektifan kalimat ditunjang antara lain oleh keteraturan struktur atau pola kalimat. Selain polanya harus benar, kalimat itu harus pula mempunyai tenaga yang menarik.
  2. Penggunaan alinea/paragraf yang kompak. Alinea merupakan suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Setidaknya dalam satu alinea terdapat satu gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas. Pembuatan alinea bertujuan memudahkan pengertian dan pemahaman dengan memisahkan suatu tema dari tema yang lain.

Beberapa Jenis Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik

  1. Berita.

Berita adalah peristiwa yang dilaporkan. Segala yang didapat di lapangan dan sedang dipersiapkan untuk dilaporkan belum disebut berita. Wartawan yang menonton dan menyaksikan peristiwa, belum tentu telah menemukan peristiwa. Wartawan sudah menemukan peristiwa setelah ia memahami prosesnya atau jalan cerita, yaitu tahu APA yang terjadi, SIAPA yang terlibat, kejadiannya BAGAIMANA, KAPAN, dan DI MANA itu terjadi, dan MENGAPA sampai terjadi. Keenam itu yang disebut unsur berita.

Suatu peristiwa dapat dibuat berita bila paling tidak punya satu NILAI BERITA seperti berikut.

  1. kebermaknaan (significance). Kejadian yang berkemungkinan akan mempengaruhi kehidupan orang banyak atau kejadian yang punya akibat terhadap pembaca. Contoh: Kenaikan BBM, tarif TDL, biaya Pulsa telepon, dll.
  2. Besaran (magnitude). Kejadian yang menyangkut angka-angka yang berarti bagi kehidupan orang banyak. Misalnya: Para penghutang kelas kakap yang mengemplang trilyunan rupiah BLBI.
  3. Kebaruan (timeliness). Kejadian yang menyangkut peristiwa yang baru terjadi. Misalnya, pemboman Gereja tidak akan bernilai berita bila diberitakan satu minggu setelah peristiwa.
  4. Kedekatan (proximity). Kejadian yang ada di dekat pembaca. Bisa kedekatan geogragfis atau emosional. Misalnya, peristiwa tabrakan mobil yang menewaskan pasangan suami isteri, lebih bernilai berita daripada Mac Dohan jatuh dari arena GP 500.
  5. Ketermukaan/sisi manusiawi. (prominence/human interest). Kejadian yang memberi sentuhan perasaan para pembaca. Kejadian orang biasa, tetapi dalam peristiwa yang luar biasa, atau orang luar biasa (public figure) dalam peristiwa biasa. Misalnya, anak kecil yang menemukan granat siap meledak di rel kereta api, atau Megawati yang memiliki hobby pada tanaman hias.

Berita jurnalistik dapat digolongkan menjadi (a) berita langsung (straight/hard/spot news), (b) berita ringan (soft news), berita kisah (feature) serta laporan mendalam (in-depth report).

Berita langsung digunakan untuk menyampaikan kejadian penting yang secepatnya diketahui pembaca. Aktualitas merupakan unsur yang penting dari berita langsung. Kejadian yang sudah lama terjadi tidak bernilai untuk berita langsung. Aktualitas bukan hanya menyangkut waktu tetapi jug sesuatu yang baru diketahui atau diketemukan. Misalnya, cara baru, ide baru, penemuan baru, dll.

Berita ringan tidak mengutamakan unsur penting yang hendak diberitakan tetapi sesuatu yang menarik. Berita ini biasanya ditemukan sebagai kejadian yang menusiawi dari kejadian penting. Kejadian penting ditulis dalam berita langsung, sedang berita yang menarik ditulis dalam berita ringan. Berita ringan sangat cocok untuk majalah karena tidak terikat aktualitas. Berita ringan langsung menyentuh emosi pembaca misalnya keterharuan, kegembiraan, kasihan, kegeraman, kelucun, kemarahan, dll.

  1. Berita Kisah (Feature)

Berita kisah adalah tulisan tentang kejadian yang dapat menyentuh perasaan atau menambah pengetahuan pembaca lewat penjelasan rinci, lengkap, serta mendalam. Jadi nilainya pada unsur manusiawi dan dapat menambah pengetahuan pembaca.

Terdapat berbagai jenis berita kisah di antaranya (a) profile feature, (b) How to do it Feature, (c) Science Feature, dan (d) human interest feature.

Profile feature menceritakan perjalanan hidup seseorang, bisa pula hanya menggambarkan sepak terjang orang tersebut dalam suatu kegiatan dan pada kurun waktu tertentu. Profile feature tidak hanya cerita sukses saja, tetapi juga cerita kegagalan seseorang. Tujuannya agar pembaca dapat bercermin lewat kehidupan orang lain.

How to do It feature, berita yang menjelaskan agar orang melakukan sesuatu. Informasi disampaikan berupa petunjuk yang dipandang penting bagi pembaca. Misalnya petunjuk berwisata ke Pulau Bali. Dalam tulisan itu disampaikan beberapa tips praktis rute perjalanan (drat, laut, udara), lokasi wisata, rumah makan dan penginapan, perkiraan biaya, kualitas jalan, keamanan, dll..

Science Feature adalah tulisan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai oleh kedalaman pembahasan dan objektivitas pandangan yang dikemukakan, menggunakan data dan informasi yang memadai. Feature ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimuat di majalah teknik, komputer, pertanian, kesehatan, kedokteran, dll. Bahkan surat kabar pun sekarang memberi rubrik Science Feature.

Human interest features , merupakan feature yang menonjolkan hal-hal yang menyentuh perasaan sebagai hal yang menarik, termasuk di dalamnya adalah hobby dan kesenangan. Misalnya, orang yang selamat dari kecelakaan pesawat terbang dan hidup di hutan selama dua Minggu. Kakek berusia 85 tahun yang tetap mengabdi pad lingkungan walaupun hidup terpencil dan miskin.

Tips Menulis Berita

  1. Tulislah berita yang menarik dengan menerapkan gaya bahasa percakapan sederhana . Tulislah berita dengan lead yang bicara. Untuk menguji lead anda “berbicara” atau “bisu” cobalah dengan membaca tulisan yang dihasilkan. Jika anda kehabisan nafas dan tersengal-sengal ketika membaca maka led anda terlalu panjang.
  2. Gunakan kata/Kalimat Sederhana. Kalimat sederhana terdiri dari satu pokok dan satu sebutan. Hindari menulis dengan kata keterangan dan anak kalimat. Ganti kata-kata yang sulit atau asing dengan kata-kata yang mudah. Bila perlu ubah susunan kalimat atau alinea agar didapat tulisan yang “mengalir”. Ingat KISS (Keep It Simple and Short)
  3. Hindari kata-kata berkabut. Kata-kata berkabut adalah tulisan yang berbunga-bunga, menggunakan istilah teknis, ungkapan asing yang tidak perlu dan ungkapan umum yang kabur. Yang diperlukan BI ragam jurnalistik adalah kejernihan tulisan (clarity).
  4. Libatkan pembaca. Melibatkan pembaca berarti menulis berita yang sesuai dengan kepentingan, rasa ingin tahu, kesulitan, cita-cita, mimpi dan angan-angan. Tapi ingat: jangan sampai terjebak menulis dengan gaya menggurui atau menganggap enteng pembaca. Melibatkan pembaca berarti mengubah soal-soal yang sulit menjadi tulisan yang mudah dimengerti pembaca. Melibatkan pembaca juga didapat dengan menulis sesuai rasa keadilan yang hidup di masyarakat.
  5. Gantilah kata sifat dengan kata kerja.

Baca kalimat ini: “Seorang perempuan tua yang kelelahan bekerja di sawahnya!”

Bandingkan dengan: “Seorang perempuan tua membajak, kepalanya merunduk, nafasNya tersengal-sengal!”

  1. Gunakan kosakata yang tidak memihak

Baca kalimat ini: Seorang ayah memperkosa anak gadisnya sendiri yang masih Berusia 12 tahun

Bandingkan dengan: Perkosaan menimpa anak gadis yang berusia 12 tahun.

  1. Hindari pemakaian eufemisme bahasa.

Baca kalimat: Selama musim kemarau terjadi rawan pangan di Gunung Kidul

Bandingkan dengan: Selama musim kemarau terjadi kelaparan di Gunung Kidul.

Dengan paparan bahasa jurnalistik seperti yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh jurnalis dalam menulis berita. Bahasa jurnalistik bersifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar dan jelas.

Terdapat empat prinsip retorika tekstual bahasa jurnalistik yaitu prinsip prosesibilitas, mudah dipahami pembaca. Prinsip kejelasan yaitu menghindari ambiguitas. Prinsip ekonomi, menggunakan teks yang singkat tanpa merusak dan mereduksi pesan. Prinsip ekspresivitas, teks dikonstruksi berdasarkan aspek-aspek pesan.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihan (1991). Bahasa Jurnalistik dan Komposisi. Jakarta: Pradnya Paramita.

Anderson, Benedick ROG. (1966). Bahasa Politik Indonesia. Indonesia I, April : hal 89-116.

Anderson, Benedick ROG. (1984). Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. London: Cornell University Pres.

Asegaf, Dja’far H. (1982) Jurnalistik Masa Kini: Pengantar ke Praktik Kewartawanan. Jakarta: Ghalia Indonesia

Badudu, J.S. (1988). Cakrawala Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Eriyanto. (2001). Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS.

Halliday, MAK. (1972). “Language Function and Language Structure” New Horizon of Linguistics. London: Penguin Book.

Leech, Geoffrey. (1993). Prinsip-prinsip Pragmatik (Alih Bahasa DD Oka). Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Oetama, Jacob. (1987). Perspektif Pers Indonesia. Jakarta: LP3ES.

McGoldrick, Annabel dan Lynch, Jake (2000). Jurnalisme Perdamaian Bagaimana Melakukannya?. Sydney: Seri Workshop LSPP, November 2000.

Reah, Danuta (2000). The Language of Newspaper. New York: Roudledge.

Sudaryanto (1995). Bahasa Jurnalistik dan Pengajaran Bahasa Indonesia. Semarang: Citra Almamater.

Suroso (2001). Menuju Pers Demokratis: Kritik atas Profesionalisme Wartawan. Yogyakarta: LSIP.

Ditulis dalam Materi Jurnalistik

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.